“Ribut” Mahasiswa STAI An-Nadwah, Untuk Memperjuangkan Apa Dan Siapa?

Gerakanmahasiswa.com – Beberapa saat yang lalu kita membaca narasi perdebatan antar mahasiswa STAI An-Nadwah Kuala Tungkal d! media sosial.

Sebagai alumni STAI An-Nadwah dan rakyat Tanjab Barat, saya ingin merespon riuh yang tidak jelas ujung pangkalnya itu.

Apa pangkal (dasar persoalannya) dan ujung (hasil yang ingin d!capai). Apa pangkal riuh mahasiswa itu? dan apa yang ingin d!capainya?

Bila melihat Tri Dharma Perguruan Tinggi, maka ujung pangkal persoalan riuh mahasiswa itu tentu berlingkup pada soal pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tapi, benarkah 3 nilai dasar (Tri Dharma) itu yang jad! sebab riuhnya mahasiswa beralmamater biru (STAI An-Nadwah) itu? Saya coba menjawabnya.

Selebaran Seruan Aksi Aliansi Mahasiswa

Saya membaca pamflet Seruan Aksi Mahasiswa STAI An-Nadwah yang akan d!lakukan di depan pagar kampus. Saya bertanya, mengapa demo kampus?

Setelah d!telusuri, aksi itu d!lakukan karena ketidakpuasan mahasiswa (bernama: Aliansi Mahasiswa) terhadap sistem dan kinerja DEMA. Tak lama kemudian, selebaran online itu d!tanggapi oleh Ketua DEMA.

Umar (Ketua DEMA), menyayangkan aksi yang d!lakukan Aliansi Mahasiswa itu, karena dianggap tidak sesuai dengan prosedur. Saya senang karena DEMA sudah mulai bicara prosedur. Alhamdulillah.

Mengapa saya senang, karena memang selama kepengurusan DEMA (saat saya kuliah) tidak jelas dasar prosedurnya (AD/ART, Peraturan Organisasi, Pemilihan KPUM, Seleksi Capresma, dll). Entahlah hari ini, sudah jelas atau masih sama saja.

Jika kond!si “aturan main kampus” masih seperti “masa jahiliyah” dulu, maka wajar jika mahasiswa mengkritik bahkan mendemonstrasi kondisi lucu itu. D!tambah dengan DEMA yang hidup dan berjalan tanpa program kerja yang jelas arahnya.

Aksi/Demonstrasi Bukan Solusi

Tapi saya juga tidak sepakat sepenuhnya dengan tindakan demonstrasi yang d!lakukan Aliansi Mahasiswa itu, karena bukan bagian dari menjalankan Tri Dharma perguruan Tinggi.

Apa pentingnya aksi itu bagi pendidikan? tidak ada hal baru yang dipelajari dari aksi itu.

Bagi penelitian? juga tidak ada yang d!teliti.

Bagi pengabdian kepada masyarakat? jauh sekali, tak ada efek untuk perubahan kondisi masyarakat. Hanya mahasiswa vs mahasiswa.

Tentu saya tidak menyalahkan aksi, karena aksi/demonstrasi adalah salah satu metode berjuang, tapi perlu diperjelas ujung pangkalnya. Kalau tidak, yah hanya mengulang masa lalu.

Pertanyaannya, kalian ribut itu demi apa dan siapa?

Demi “kopi gratis” dari senior?

Demi “tepuk tangan junior” yang tidak mengerti?

Demi “eksistensi semu”?

Demi ????? (isi sendiri)

Hidup mahaSISWA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *