Arakan Sahur

Mesjid Darussalam-Peserta Yang Mendapat Juara Umum (Piala Bergilir) Pada Festival Arakan Sahur & Takbiran Tahun 2022

Festival Arakan Sahur & Takbiran (Sisi Lainnya)

Opini: Mr. Sandi Alexandra

Arakan Sahur: Pemenang
Sandi Alexandra

(Penulis Merupakan Konseptor Peserta Arakan Sahur & Takbiran Masjid Darussalam-Juara Umum Tahun 2022)

Sebagai orang yang berdomisili di Kuala Tungkal – Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat), kita tentu sangat akrab dengan perhelatan Festival “Arakan Sahur & Takbiran” pada Bulan Suci Ramadhan dan malam penyambutan Idul Fitri.

Setiap tahun kita menikmati tampilan karya gerobak hias (maket) yang didorong, pukulan perkusi-melodi, dan suara Qori’ yang indah. Berbagai kelompok kreatif menunjukkan karyanya di hadapan masyarakat (penonton).

Karena pelaksanaannya berulang setiap tahun (kecuali 2020), rasanya kurang lengkap kalau tidak ada Festival “Arakan Sahur & Takbiran” itu dalam ber-Ramadhan dan ber-Lebaran kita.

Sehingga wajar saja bila ada yang menganggap bahwa Festival “Arakan Sahur & Takbiran” itu perlu dipertahankan bahkan ditumbuh-kembangkan.

Tapi, bagaimana cara mempertahankan dan menumbuh-kembangkan “Festival Arakan Sahur & Takbiran” itu? banyak jawaban dari sudut pandang yang berbeda.

Sudut pandang yang berbeda terlihat antara akademisi dan praktisi, antara tradisionalis dan modernis, antar masyarakat, dan seterusnya. Hal itu menurut saya perlu dibahas.

Kalau hanya berbeda pendapat, tentu hal yang biasa. Tapi kalau perbedaan itu sampai membuat segelintir orang saja yang merasa pendapatnya paling benar, itu jelas masalah.

Pendapat Siapa Yang Mesti Kita Dengar?

Baru-baru ini ada pihak yang agak terang menganggap bahwa “Festival Arakan Sahur dan Takbiran” itu adalah tradisi, bahkan ada yang menyebut-nyebut bahwa itu adalah budaya. Anggapan itu tidak salah, karena ada unsur tradisi dan unsur budaya di dalam festival itu.

Tapi, sejauh pengamatan saya, terdapat kondisi yang menunjukkan bahwa ada beberapa pendapat yang agak merasa paling benar menilai.

Saya sebagai orang awam tentu memaklumi perbedaan. Tapi sayang sekali kalau ada pihak yang berpendapat bahwa d!alah yang paling benar dan harus d!ikuti, padahal belum tentu benar dan cocok untuk d!gunakan.

Saya coba merangkum perbedaan pendapat itu dari tiga sisi. Pertama, dari pihak tradisionalis. Kedua, pihak teoritis/akademisi. Ketiga, kelompok modernis.

Pandangan Tradisionalis

Ada pihak-pihak yang menganggap bahwa nilai-nilai tradisionalitas dari arakan sahur haruslah menjadi fokus utama dalam “Festival Arakan Sahur dan Takbiran”.

Hal itu tidak salah, karena memang sejarah mencatat bahwa arakan sahur dan takbiran itu merupakan aktivitas yang terus menerus d!lakukan sejak dahulu hingga saat ini.

Tapi perlu d!sadari bahwa tradisi arakan sahur dan takbiran mengalami banyak perubahan. Dulu d!lakukan sukarela, tapi sekarang d!lombakan. Dulu perlengkapan seadanya tidak memerlukan biaya, tapi sekarang tampilannya megah dan menggunakan banyak biaya.

Jadi, menurut saya tidak tepat juga menganggap bahwa festival itu murni sebagai tradisi lagi.

Pandangan Teoritis/Akademisi

Dengan semangat membawa kemajuan pada “Festival Arakan Sahur dan Takbiran”, beberapa orang yang mengagumi teori seni merasa perlu untuk merubah beberapa hal dalam festival agar lebih baik lagi.

Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa tidak selamanya teori seni cocok diterapkan dalam setiap kondisi. Misalnya, menurut teori pertunjukan, bahwa bermain musik harus menggunakan partitur (membaca not balok).

Bayangkan saja kalau teori itu diterapkan dalam festival, maka akan sulit bagi kita untuk turut serta. Karena itu menurut saya tidak perlu terlalu berlebihan menilai dari sudut teori, toh belum tentu cukup dan cocok untuk diterapkan.

Faktanya, banyak juga seniman senior kita yang menjaga seni dan tradisi secara alami tanpa memaksakan pandangan teori tertentu. Dan hasilnya sangat diterima oleh masyarakat hingga saat ini.

Pandangan Modernis

Tidak hanya tentang tradisi dan teori, pandangan modern pun masuk dalam menilai “Festival Arakan Sahur dan Takbiran”. Ada yang menganggap bahwa perlu adanya kemajuan dalam bentuk penilaian (ala modern), yang serba akurat dengan mencontoh daerah lain.

Sebenarnya bagus saja, kalau kemajuannya dapat d!terima oleh masyarakat pelaku seni dan penikmatnya. Tapi, faktanya kadang tidak juga d!terima.

Misal, untuk memajukan seni secara modern kita harus meniru atau mencontoh tempat lain, bahkan negara lain. Bagi saya itu terlalu berlebihan, karena kondisinya berbeda antara satu daerah dan daerah lain, apalagi antar negara.

Maka dari itu, jangan karena kita banyak pengalaman di daerah lain lalu menganggap bahwa pengalaman itu cocok untuk diterapkan di tempat kita. Itu namanya bukan ingin merubah, mungkin lebih tepatnya cari muka.

Bayangkan saja, misalkan kita punya pengalaman menari setengah telanjang di eropa, lalu merasa itu perlu di terapkan di daerah kita, justru yang terjadi bukan kemajuan, tapi merendahnya moral.

Atau misalkan, kita pernah d!perlakukan dengan cara tertentu di daerah lain, lalu kita menganggap itulah cara paling keren untuk d!terapkan, bagi saya itu terlalu egois, karena kondisi jelas berbeda.

Jadi Harusnya Bagaimana?

Menurut saya, tidak perlu memaksakan pandangan pribadi, karena belum tentu itu yang paling benar. Lihat lagi lebih dalam dan luas situasi dan kondisi daerah kita, sangat majemuk dan beragam gaya, sehingga tidak bisa hanya mengandalkan teori seni, pandangan tradisional, dan konsep modern.

Perlu melihat lebih banyak sisi agar tidak terjebak pada ego pribadi, baik yang d!dapat dari pengalaman ataupun teori. Selain itu perlu juga diskusi untuk mendapat pandangan yang lebih terbuka dan sesuai dengan daerah kita.

Kita semua cinta daerah, ingin daerah maju, dan ingin “Festival Arakan Sahur dan Takbiran” terus ada. Tapi tidak perlu ada maha tunggal pemberi nilai mutlak, karena ada masyarakat (penikmat) yang lebih jujur dan alami sebagai penilai.

Semoga terus berkarya dengan berbagaimacam cara, dan masyarakat dapat menerima karya sebagai sesuatu yang kaya.

tidak perlu sangar, asal bersinar

tidak perlu teori bila tidak berpijak di bumi

Gerakanmahasiswa.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *