62 tahun PMII

62 Tahun PMII, Sampai Dimana Pergerakannya?

Opini Ditulis Oleh: SATRIA (Ketua 1 Bidang Internal-Kaderisasi PMII Tanjab Barat Periode 2019-2020)

62 Tahun, usia yang tidak muda lagi bagi organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sehingga perlu banyak melakukan refleksi untuk memperbaiki yang kurang dan terus memajukan diri.

Pada momentum harlah (17 April 2022), saya mengajak semua anggota/kader serta alumni organisasi biru kuning yang tercinta ini untuk bertanya, “sudah sampai d!mana langkah kita dalam mencapai tujuan pergerakan?”.

Saya selaku alumni yang “masih balita“, melihat banyak kemajuan yang terjadi di internal organisasi dan efek geraknya di eksternal.

Tapi, sisi lain dari kemajuan tentu ada hal yang mungkin kurang terlihat atau bahkan belum d!urus, yaitu kemunduran.

Salah satu kemajuannya, bisa kita lihat banyaknya kader yang kini berstatus alumni, sudah menjabat di struktur pemerintahan, mengisi ruang legislatif maupun eksekutif, berkhidmat d!berbagai bidang seperti menjadi akademisi, pers/jurnalis, kontraktor, interpreneur, dan lain-lain.

Pencapaian tersebut menurut saya terjadi karena suksesnya proses kaderisasi, pengembangan soft skill dan hard skill, serta support jejaring semasa menempa diri di PMII.

Tapi, sudahkah pencapaian jabatan struktural, profesionalitas dan karir tersebut mencapai tujuan pergerakan kita (PMII)? Inilah sisi kemunduran itu, yang menurut saya perlu d!bahas.

Melalui Harlah PMII Ke-62 dengan Tema “Transformasi Gerakan Merawat Peradaban”, mari kita tanya dan jawab sejenak dimana posisi kita (Anggota/Kader & Alumni PMII) dalam mencapai tujuan pergerakan.

Mencapai Tujuan Organisasi Melalui Transformasi Gerakan

Secara tekstual, tujuan PMII adalah Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia – (Pasal 4 Anggaran Dasar PMII).

62 tahun PMII berdiri, mungkin tidak selama itu kita mengabdikan diri di organisasi tercinta ini. Lalu, sudahkah ada yang merasa bahwa Pasal 4 itu telah tercapai?

Kata sahabat ngopi saya, “kalau pasal 4 (tujuan) itu sudah tercapai, maka PMII tidak perlu ada lagi“.

Saya sepakat dengan ucapan sahabat saya itu, memang setiap waktu pergerakan menuju cita-cita PMII terus berlangsung, sampai detik ini. Tidak bisa d!pastikan sampai kapan tujuan itu akan terwujud.

Tapi, apakah tujuan itu akan tercapai bila kita (PMII) hanya menunggu keajaiban datang dari langit? Jawabannya tentu tidak, dan kita harus mengupayakan cita-cita itu tercapai.

Lalu, apakah yang sudah kita upayakan untuk tujuan yang mulia itu? Apakah dengan merekrut sebanyak-banyaknya anggota? mendirikan sebanyak-banyaknya cabang, komsat, rayon? memperbanyak seminar? meningkatkan intensitas ngopi? meningkatkan jam terbang demonstrasi? atau apa?

Menurut saya, yang harus d!upayakan adalah salah satu poin dari tema harlah itu sendiri, yaitu transformasi gerakan. Dan upaya itu d!mulai dari mentransformasikan atau merubah mental kader.

Mental seperti apa yang dibutuhkan oleh pergerakan? tentu mental yang sesuai dengan cita-cita, nilai, paradigma, motto, komitmen dan khidmat PMII.

Bukankah semua itu telah diupayakan dalam forum formal kaderisasi? ya, saya sepakat dengan itu. Tapi, apakah itu cukup untuk membentuk mental yang d!butuhkan dalam pergerakan? tentu sangat tidak cukup. Mengapa?

Berapa banyak anggota/kader yang bermental kritis-transformatif? yang membaca realitas dengan analisis sosial? paham teori yang dikonsumsi di bangku kuliah? yang mengkhidmati tujuan PMII?

Kita Butuh Lebih Banyak “Putera Bangsa-Bebas Merdeka”

Kita amati lagi, masih banyak anggota/kader yang enggan menempa diri di forum formal. Bahkan untuk pengembangan d!rinya sendiri harus berfikir 1000 kali. Terkadang lebih memilih ikut saja, terima saja, dan jalankan saja, tanpa mengerti yang d!kerjakan itu untuk pribadi atau tujuan organisasi.

Bagi beberapa anggota/kader, sikap yang “ngalah dan tidak mau tahu” itu mungkin sah sah saja, tapi lama kelamaan sikap itu seolah-olah menjadi contoh bagi generasi berikutnya. Jika begitu, maka tujuan seperti “jauh panggang dari api“.

D!sisi lain kita sering saksikan sendiri, banyak anggota mengalah pada tekanan ekonomi, politik, pengetahuan, perasaan. Entah itu datangnya dari sesama sahabat pergerakan atau dari elit, atau dari senior.

Bila kondisinya terus seperti itu, kapan terbentuknya “Putera Bangsa-Bebas Merdeka“? yang mampu mengolah tekanan menjadi energi pergerakan hingga perubahan?

Terlihatlah bahwa kita sangat membutuhkan perubahan-perubahan cara untuk menempa anggota/kader, agar transformasi gerakan bisa terjadi.

Itulah yang harus kita refleksikan, selain sebagai kaum pergerakan yang memproses diri sendiri dan organisasi secara formal, kita juga perlu tawarkan konsep transformatif untuk merubah kondisi yang ada, d!mulai dari internal.

Itu semua kita harapkan, agat PMII tetap tumbuh subur menjadi pergerakan dan dapat mendorong perubahan yang sejalan dengan tujuan.

Salam Pergerakan!!!

Gerakanmahasiswa.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *