pakar komunikasi

Pakar Komunikasi Menanggapi Pernyataan Menag Yang Viral

Gerakanmahasiswa.com – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas telah menerbitkan Surat Edaran (SE) yang mengatur penggunaan pengeras suara di Rumah Ibadah umat muslim. Menag melakukan hal itu dengan tujuan menjaga harmonisasi kehidupan antar warga masyarakat.

Akan tetapi, muncul masalah saat Menag mencoba menjelaskan maksud SE itu kepada publik. Dalam penjelasan yang Menag sampaikan membuat banyak pihak merasa terganggu bahkan marah, karena Menag menggunakan istilah gonggongan anjing sebagai analogi.

Bahkan lebih jauh, Roy Suryo mengambil sikap melaporkan Menag atas dugaan penistaan agama, karena membandingkan suara Toa Mesjid dengan gonggongan anjing. (dirilis oleh kompas.com).

Menilai polemik tersebut, seorang pakar komunikasi Effendi Gazali menyampaikan pandangannya dalam suatu acara dialog. Bagi Effendi, ada beberapa hal mesti d!bahas agar masalah bisa d!nilai secara objektif.

Dalam konteks komunikasi publik, Effendi menilai bahwa secara metodologi pernyataan Menag terkait gonggongan anjing itu bukanlah sesuatu yang d!sengaja.

Ahli komunikasi manapun, pasti segera menemukan bahwa ini tidak disengaja”, kata Effendi dalam dialog ‘Apa Kabar Indonesia’ pada channel tvOneNews (diunggah 24/2/2022).

Konteks Pernyataan Gonggongan Anjing

D!sisi lain, ia mengatakan bahwa secara objektif harus d!bedakan pernyataan Menag sebelum sampai ke istilah gongggongan anjing. Bagi Effendi, kalimat ‘misalkan, kita ada d!suatu kompleks’ itu adalah kalimat yang bisa d!hubungkan, tapi juga bisa sebagai pemutus.

jadi, kita menarik garis bedanya, ketika ada kalimat itu tadi”, ujarnya.

Terkait penggunaan analogi gonggongan anjing, Effendi menilai pada konteks penggunaan suara lantang memang sulit menggantikan istilah selain gonggongan anjing. Walaupun menurutnya, Menag mestinya tidak perlu menggunakan analogi. Meski begitu, Effendi menilai sebetulnya Menag sudah bagus mengeluarkan SE tersebut.

dalam konteks tertentu, menurut saya pejabat publik berusaha menghindari analogi-analogi yang sulit sekali untuk ditemukan bahwa ini pas, begitu”, jelas Effendi.

Pakar komunikasi itu lebih lanjut memberikan perbandingan terkait pengaturan pengeras suara di negara lain. Ia mencontohkan kebijakan di Belanda saat ia kuliah pada tahun 2001-2004, bahwa ada gereja d!sekitar kosnya yang d!minta untuk tidak begitu panjang membunyikan loncengnya.

jadi ada pengaturan-pengaturan begitu juga ditingkat dunia”, terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *