interdependensi PMII

Interdependensi PMII – NU

Kurang lebih 12 tahun PMII menjadi sayap (underbouw) NU, dan selama itu pula PMII turut dalam aktivitas NU kala itu, termasuk politik praktis. Akan tetapi, kesadaran ingin independen akhirnya melepaskan keterikatan PMII dari NU, sehingga melahirkan deklarasi munarjati (pernyataan independensi).

Meski telah menyatakan independensinya, PMII tetap memiliki banyak kesamaan dengan NU. Kesamaan itu terlihat dari paham keagamaan, perjuangan, visi sosial, dan kemasyarakatan, juga ikatan sejarah.

Selain itu, ada pula kesamaan PMII dan NU dalam hal nilai, kultur, cita-cita, tradisi, ideologi, hingga aqidah. Bisalah dikatakan, bahwa upaya memisahkan diri tidak membuat PMII benar-benar terpisah secara penuh dari NU.

Dalam dokumen historis yang d!tulis oleh Pengurus Besar PMII (tahun 1980), terdapat istilah lain untuk menggambarkan posisi PMII terhadap NU. Istilah lain itu d!tawarkan oleh Chalid Mawardi, yaitu Interdependensi.

Mengacu pada tulisan Ahmad Hifni, bahwa arti dari Interdependensi PMII terhadap NU adalah suatu sikap yang tidak saling mengintervensi secara struktural dan kelembagaan, tetapi memiliki visi dan tujuan yang sama.

Konsep Interdependensi membuat posisi PMII menjadi unik, karena memilih konsep yang berbeda dari konsep organisasi mahasiswa pada umumnya yang menggunakan istilah independen.

Interdependensi PMII – NU akhirnya dideklarasikan dalam Kongres X PMII pada 27 Oktober 1991 di Asrama Haji Pondok Gede – Jakarta.

DEKLARASI INTERDEPENDENSI PMII-NU

Bismillahirrahmanirrahim

  1. Sejarah telah membuktikan bahwa PMII adalah d!lahirkan dari pergumulan mahasiswa yang bernaung di bawah kebesaran NU, dan sejarah juga telah membukt!kan bahwa PMII telah menyatakan independensinya melalui Deklarasi Munarjati tahun 1972.
  2. Kerangka berpikir, perwatakan dan sikap sosial antara PMII dan NU mempunyai persamaan karena d!bungkus pemahaman Islam ala Ahlussunah wal Jama’ah.
  3. PMII insaf dan sadar bahwa dalam melakukan perjuangan d!perlukan untuk saling tolong menolong “ta’awanu ‘ala-l-birri wattaqwa”, ukhuwah Islamiyah (Izzul Islam wal muslimin) serta harus mencerminkan “mabadi khoiru ummah” (prinsip-prinsip umat yang baik), karena itulah PMII siap melakukan kerjasama.
  4. PMII insaf dan sadar bahwa arena dan lahan perjuangannya adalah sangat banyak dan bervariasi sesuai dengan nuansa usia, zaman, dan bidang garapannya.

Karena antara PMII dan NU mempunyai banyak persamaan dalam persepsi keagamaan dari perjuangan, visi sosial dan kemasyarakatan, ikatan historis, maka untuk menghilangkan keragu-raguan, ketidakmenentuan serta rasa saling curiga, dan sebaliknya untuk menjalin kerja sama program secara kualitatif dan fungsional, baik secara program nyata maupun penyiapan sumber daya manusia, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia menyatakan siap untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan NU atas dasar prinsip kedaulatan organisasi penuh, INTERDEPENDENSI, dan tidak ada intervensi secara struktural-kelembagaan, serta prinsip mengembangkan masa depan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia.

Sumber: Ahmad Hifni: Menjadi Kader PMII

1 thought on “Interdependensi PMII – NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *