Analisis Pakar Ekspresi

Kasus Edy Mulyadi yang diduga menghina Kalimantan (sebagai tempat jin buang anak) terus menjadi perbincangan. Banyak pihak menyoroti kasus yang menimpa seorang Jurnalis Senior itu, mulai dari pandangan pakar hukum, pendapat pakar komunikasi, hingga analisis pakar ekspresi.

Meski Edy sudah meminta maaf atas dugaan penghinaan yang ia lakukan, tapi proses hukum telah dimulai dan terus berjalan hingga saat ini. Terdapat dua sikap pihak-pihak yang menyorot kasus Edy:

Pertama, pihak yang kontra dengan tindakan Edy, seperti kelompok suku dan masyarakat adat yang ada di Kalimantan.

Kedua, pihak yang pro dan membela Edy, seperti Koalisi Persaudaraan dan Advokasi Umat (KPAU).

Banyak sudut pandang yang digunakan untuk melihat kasus Edy, mulai dari saat ia menggelar konferensi pers, hingga ia melakukan klarifikasi dan minta maaf. Ada pihak yang menggunakan sudut pandang hukum, sudut pandang komunikasi, dan sudut pandang lainnya.

Dari sudut pandang komunikasi, kalimat Edy memang sangat terkesan menyudutkan Kalimantan (Baca: Retorika Edy). Dari sisi hukum, beberapa kalimat Edy memiliki unsur delik (KUHP dan UU ITE), sehingga dapat d!proses secara hukum.

Akan tetapi, selain dua sudut pandang tersebut, ada kajian lain untuk memperbanyak sudut pandang dalam melihat kasus Edy, yaitu tentang Mikro Ekspresi.

Analisis Pakar Ekspresi Tentang Marahnya Edy Mulyadi

Klarifikasi dan permintaan maaf Edy atas pernyataan “tempat jin buang anak” rupanya tidak meredakan amarah Warga Kalimantan dan tidak dapat menghambat proses hukum. Bahkan, ada ahli yang mempertanyakan dan meragukan kebenaran pernyataan, klarifikasi dan permintaan maaf Edy.

Kirdi Putra selaku pakar Mikro Ekspresi berpendapat bahwa ada ekpresi yang seharusnya terlihat saat seseorang sedang dalam suasana marah. Dalam konteks ini, kemarahan Edy saat berbicara dalam konferensi pers.

Kalau seseorang itu ketika dia emosi marah, itu ada beberapa gerakan wajah yang harusnya sangat terlihat, yaitu tarikan di sekitar alis itu, kemudian ada kerutan, kemudian bibirnya menipis dan mengencang“, kata Kirdi, kutipan dialog dari tvonenews channel.

Dalam pengamatan Kirdi, tidak terlihat ciri atau tanda marah saat Edy berbicara. “Mayoritas, mungkin lebih dari 90% itu tidak terlihat gerakan tersebut. Ini artinya adalah saya lebih cenderung melihat bahwa Edy saat ini tu kayak terlihat marah, kayak terlihat marah, gitu“, terang Kirdi.

Lebih lanjut, Kirdi meragukan kevalidan informasi yang d!sampaikan Edy, “Kalau dia terlihat marah, sementara tidak benar-benar marah, dan informasi yang dia sampaikan itu bukan informasi yang menurut saya cukup valid”, terangnya.

Dalam kesimpulannya terkait pernyataan Edy pada konferensi pers tersebut, Kirdi menilai bahwa Edy tidak benar-benar marah.

Yang jelas dia tidak marah beneran di sini, sepenuhnya semuanya marah, nggak“, simpulan Kirdi.

Analisis Pakar Ekspresi Tentang Permintaan Maaf Edy Mulyadi

Selang beberapa waktu setelah pernyataannya pada konferensi pers viral di media sosial, Edy kemudian mengklarifikasi dan meminta maaf, karena melihat respon negatif dari banyak pihak, khususnya dari Warga Kalimantan.

Akan tetapi, permintaan maaf Edy juga d!ragukan kebenarannya dari sudut pandang mikro ekspresi. Kirdi Putra berpendapat bahwa permintaan maaf Edy tidak jelas untuk siapa dan dalam hal apa maaf itu d!ucapkan.

permintaan maaf yang tulus itu harus mengandung tiga hal. Satu, siapa yang minta maaf. Dua, permintaan maafnya kepada siapa. Tiga, permintaan maafnya itu tentang apa“, terang Kirdi.

Kirdi menjelaskan bahwa permintaan maaf Edy terkesan ngeles karena ada beberapa kata yang menunjukkan bahwa sebenarnya Edy merasa tidak bersalah.

kalau kita bicara figure of speech, bahasa ‘kalau misalnya’, berartikan dia merasa kalau itu nggak salah”, jelas Kirdi.

Kesimpulan Kirdi, permintaan maaf yang Edy lakukan bukanlah benar-benar permintaan maaf, melainkan hanya pembelaan diri bahkan hanya untuk membuat konten lagi setelah video sebelumnya viral.

“menurut saya, ini bukan jenis permintaan maaf, ini jenis pembelaan diri, dan membuat konten lagi,” simpulan Kirdi.

Kirdi juga sejalan dan membenarkan sikap Warga Kalimantan yang tidak setuju dengan perdamaian tanpa proses hukum terhadap kasus Edy Mulyadi.

1 thought on “Analisis Pakar Ekspresi Tentang Pernyataan Edy Mulyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *