Retorika

Retorika; Senjata Penting Bagi Perjuangan Aktivis Mahasiswa

Menjadi aktivis mahasiswa bukan hal yang mudah, karena harus memiliki berbagai kemampuan yang terkait dengan kepemimpinan, keorganisasian, komunikasi, dan lain-lain. Salah satu kemampuan yang harus ada pada aktivis mahasiswa adalah kemampuan ber-Retorika.

Mengapa aktivis mahasiswa harus mampu ber-Retorika? Jawaban yang paling mendasar adalah karena peran aktivis mahasiswa adalah berjuang untuk menyampaikan pesan, harapan, dan menggerakkan rakyat menuju perubahan. Selain itu, aktivis mahasiswa juga harus menyampaikan pesan, harapan, dan tekanan dari rakyat kepada penguasa/pemerintah agar terjadi perubahan.

Lalu, mengapa materinya harus Retorika? Bukan ilmu komunikasi saja? Setidaknya ada dua alasan yang mendasar:

Pertama, Retorika itu bagian dari ilmu komunikasi, yang membahas tentang cara menemukan alat (bahasa) yang efektif untuk mempengaruhi (persuasi) khalayak (orang banyak). Dalam arti lain, Retorika sering disebut seni berbicara guna mempengaruhi orang lain..

Kedua, Retorika tidak sekedar membahas tentang proses komunikasi (penyampaian pesan kepada penerima pesan). Tapi, Retorika juga membahas tentang etika (baik atau tidaknya prilaku si-penyampai pesan), logika (masuk akal atau tidaknya pesan yang d!sampaikan), phatos (pesan harus bisa memancing emosi tertentu bagi pendengarnya).

Dua alasan tersebutlah yang membuat Retorika menjadi penting bagi perjuangan aktivis mahasiswa. Lalu, bagaimana menerapkan Retorika agar bisa mempengaruhi khalayak? Jawabannya harus mengacu pada unsur yang membentuk Retorika itu sendiri.

Unsur Etika/Etos

Saat seseorang ingin menyampaikan pesan kepada penerima pesan, maka yang harus d!perhatikan adalah sikap/prilaku si-penyampai pesan. Maksudnya adalah pemberi pesan harus terlebih dahulu menunjukkan bahwa ia memiliki sikap/prilaku yang dapat d!terima oleh khalayak. Dengan kata lain, si penyampai pesan harus d!anggap baik terlebih dahulu oleh orang yang akan menerima pesan.

Contoh: Jika si penyampai pesan ingin memberi pesan tentang “jangan melakukan korupsi”, maka ia harus terlebih dahulu menunjukkan sikap sebagai orang yang anti atau tidak melakukan korupsi.

Intinya, unsur Etika/Etos dalam Retorika adalah hendak memastikan bahwa si penyampai pesan adalah orang yang dapat diterima sikap/prilakunya oleh khalayak.

Unsur Logika/Logos

Dalam menyampaikan pesan kepada penerima pesan, juga penting untuk diperhatikan logis atau tidaknya isi pesan. Maksudnya, pemberi pesan harus menunjukkan bukti bahwa pesan yang ia sampaikan memiliki dasar yang jelas dan runtut agar dapat d!terima oleh khalayak. Dengan kata lain, semakin banyak bukti dan semakin runtut pesan yang d!paparkan, maka khalayak akan semakin menerima pesannya.

Contoh: Jika si penyampai pesan ingin memberi pesan tentang “bahaya narkotika”, maka ia harus terlebih dahulu menunjukkan bukti zat-zat berbahaya yang terkandung dalam narkotika, dan menjelaskannya secara runtut mulai dari kandungan zatnya hingga efeknya.

Intinya, unsur Logika/Logos dalam Retorika adalah hendak memastikan bahwa isi dari pesan yang d!sampaikan adalah benar dan memiliki bukti, baik secara empiris maupun rasional.

Unsur Emosi/Phatos

Selain Etika dan Logika, unsur lain yang perlu diperhatikan dalam penyampaian pesan adalah tentang emosi si-penerima pesan. Maksudnya, pemberi pesan harus mampu membaca situasi dan kondisi emosi khalayak, sehingga saat menyampaikan pesan khalayak meresponnya dengan emosi. Dengan kata lain, dalam menyampaikan pesan harus menggunakan hal-hal yang bisa memunculkan emosi khalayak, seperti menggunakan gerak tubuh, intonasi, pilihan kata yang menyentuh sisi emosional khalayak.

Contoh: Jika si penyampai pesan ingin memberi pesan tentang “melawan penguasa”, maka ia harus menggunakan kata, intonasi, dan gerak tubuh yang dapat memunculkan semangat perlawanan dari khalayak.

Intinya, unsur Emosi/Phatos dalam Retorika adalah hendak memastikan bahwa cara dan isi dari pesan yang disampaikan bisa membangkitkan emosi khalayak.

Ketiga unsur tersebutlah yang harus dimaksimalkan saat menyampaikan pesan atau ber-Retorika, agar khalayak dapat dipengaruhi.

Selain unsurnya, perlu juga d!ketahui tiga tujuan dari Retorika, yaitu Politik/Deliberatif, Forensik, dan Seremonial.

Retorika Politik/Deliberatif bertujuan untuk mempengaruhi khalayak agar bertindak atau memutuskan sesuatu. Contoh: Kita mempengaruhi khalayak agar memutuskan untuk memilih calon pemimpin tertentu dalam momen pemilu.

Retorika Forensik bertujuan untuk mempengaruhi khalayak agar membenarkan atau menyalahkan sesuatu. Contoh: Kita mempengaruhi khalayak agar menyalahkan tindakan tertentu dan membenarkan tindakan yang lain.

Retorika Seremonial bertujuan untuk mempengaruhi khalayak agar memuji atau menghina sesuatu. Contoh: Kita mempengaruhi khalayak agar memuji prilaku tertentu dan menghina prilaku yang lain.

Dari pengertian, unsur, dan tujuan Retorika dapat kita lihat, bahwa Retorika memang sangat d!butuhkan oleh aktivis mahasiswa dalam menjalankan peran perjuangannya, baik secara individu maupun secara organisasi kemahasiswaan (Ormawa).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *