Soe Hok Gie

Gerakanmahasiswa.com – Buat teman-teman mahasiswa, terutama para aktivis. Tentu tak asing lagi bila mendengar nama Soe Hok Gie. Salah satu tokoh penting dalam gerakan mahasiswa tahun 60 an.

Termasuklah tokoh kunci dalam sejarah munculnya Angkatan ’66. Sebuah angkatan dalam sejarah gerakan kaum intelektualitas d! Indonesia yang nyaris menjadi suatu legenda.

Soe Hok Gie banyak menulis dan membuat catatan-catatan di berbagai media massa. Tulisannya yang tajam, menggigit dan seringkali sinis itu membuat rasa kemanusiaan setiap pembacanya seperti d!robek-robek.

Dengan karyanya tersebut, rasanya tepat menyebutnya sebagai seorang intelektual. Seseorang yang merdeka dengan berbagai tulisan tulisannya itu.

Ia sebenarnya berumah d! atas angin dan tak punya ikatan dengan kelembagaan apa pun. Langkahnya yang kelewat berani, tak jarang menimbulkan kesulitan bagi dirinya, seperti sikap permusuhan, dengan yang bertentangan dengan prinsipnya tersebut. Bahkan yang lebih ironisnya lagi banyak teman yang meninggalkannya karena prinsipnya.

Kesunyian adalah teman yang setia selalu menemaninya mendekam dalam aktivitasnya. Begitulah kira kira nasib seorang intelektual yang tetap setia kepada cita-cita kemanusiaan.

Sampai sampai, Ia pun d!akui oleh temannya yang bertempat tinggal d! Amerika dengan julukan seorang intelektual yang bebas dan pejuang yang sendirian.

Gerakan produktif ini Bermula sekitar tahun 1967 – 1969 d!lakukan oleh mahasiswa gerakan seperti Gie. Sebab dalam masa itu perpindahaan kekuasan dari orde lama ke orde baru. D!tingkat elit kekuasaan semangkin memanas. Dengan ini sangat memungkinkan untuk munculnya pemikiran pemikiran baru dari sektor mana saja.

Soe Hok Gie Yang Kokoh Terhadap Prinsip.

Dengan prinsipnya pula, Ia sangat berbeda dengan aktivis-aktivis lainnya karena aktivis yang lain sudah berkiprah kepada struktur kekuasaan. Akan tetapi, ia tetap bersikukuh dengan prinsipnya pula. Akhirnya terasingkan dengan kesendirian.

Pemikiran Soe Hok Gie, secara teori dan aksi nyata senantiasa menjadi perhatian banyak pihak. Dengan meyakini apa yang menjadi tindakan atas kebenarannya itu. Ia memiliki teman dekat sebagai indolog (kebudayaan) Ben Anderson, pernah memuji Soe Hok Gie, sebagai pemuda yang berani, karena dialah yang melontarkan pertama kali, tentang adanya penahanan besar-besaran di pelosok Jawa dan Bali, tanpa proses pengadilan.

Soe Hok Gie,  d! saat akhir hidupnya masih tercatat sebagai staf pengajar di Jurusan Sejarah FSUI, adalah sosok orang muda yang mewakili zamannya. Ia meninggal hanya sehari menjelang usianya ke 27 (lahir 17 Desember 1942, meninggal Desember 1969).

Agaknya lingkungan keluarga di mana ia dibesarkan, sangat berpengaruh dalam dirinya. Ayahnya adalah sastrawan dan juga wartawan di masa Pergerakan Nasional dan zaman Jepang. Soe Lie Piet (Salam Sutrawan). Lingkungan keluarga ini akrab dengan literatur, sejak putra mereka masih kanak-kanak. Dari segi ekonomi, mereka memang serba sederhana, tetapi tidak dalam penjelajahan intelektual.

Soe Hok Gie dan kakaknya, Soe Hok Djien (Arief Budiman) sudah akrab dengan bacaan sastra dan filsafat sejak duduk di bangku sekolah menengah. Latar belakang seperti ini menjadikan Soe Hok Gie sebagai aktivis yang berwawasan luas. Ia tidak canggung berdiskusi panjang lebar dengan Soedjatmoko, ia juga pernah berdebat dengan Bung Karno (saat masih Presiden), tetapi bisa juga larut dalam obrolan dengan Pak Jiman, tukang putar stensil d! FSUI.

Sumber : Zaman Pralihan (Stanley-Aris Santoso)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *