Organisasi Ekstra Kampus, Kenali Tujuannya Sebelum Bergabung

Mahasiswa tentunya sering atau minimal pernah mendengar istilah organisasi ekstra kampus. Entah itu dari senior, teman seangkatan/sekelas, bahkan dari dosennya. Sangking akrabnya istilah organisasi ekstra kampus dengan mahasiswa sampai ada yang menganggap bahwa organisasi ekstra itu sebagai kampus keduanya.

Mengapa bisa begitu? jawaban yang paling umum adalah karena mahasiswa menganggap organisasi ekstra terbukti bisa mengembangkan kemampuan (hard & soft skill), membentuk karakter, serta menambah jaringan.

Mahasiswa tertarik melakukan banyak aktivitas (menjadi aktivis) setelah bergabung dengan organisasi ekstra kampus. Baik itu aktivitas sosial, ekonomi, hukum, politik, dll.

Aktivis mahasiswa bertindak memecahkan masalah yang ada di masyarakat sebagai wujud pelaksanaan ajaran organisasi eksternal. Dengan begitu, masyarakat melabeli mahasiswa sebagai Agent of Change, Agent of Social Control, dan Problem Solver.

Terdapat banyak organisasi ekstra kampus yang berdiri di Indonesia, seperti: HMI, PMII, GMNI, GMKI, PMKRI, dll. Organisasi ekstra kampus memiliki perbedaan satu sama lain, salah satunya terlihat pada nama organisasi dan tujuan yang ingin dicapai.

Ada baiknya mengetahui (kalau bisa memahami) tujuan atau visi/misi dari masing-masing organisasi ekstra kampus tersebut. Dengan mengetahui tujuannya, paling tidak bisa tergambarkan seperti apa mahasiswa bila berproses di organisasi yang ada di luar kampus.

Disisi yang lain, akan tergambar pula menjadi seperti apa kondisi Indonesia bila masing-masing tujuan organisasi ekstra kampus itu tercapai.

Himpunan Mahasiswa Islam

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berdiri pada 5 Februari 1947, yang bermula dari ide Lafran Pane seorang mahasiswa Fakultas Hukum Sekolah Tinggi Islam (sekarang menjadi FH-UII) Yogyakarta, yang secara umum idenya itu membahas tentang persatuan dan nilai-nilai ke-Islam-an.

Lafran Pane resah terhadap ajaran Islam yang tidak begitu dimengerti oleh kalangan mahasiswa yang membuat jatuhnya harkat dan martabat Islam itu sendiri, disisi lain terjadinya kemerosotan persatuan di Indonesia.

Karena itu, Lafran Pane merasa perlu mendorong persatuan mahasiswa Islam agar dapat menjaga persatuan Indonesia serta mengangkat harkat dan martabat ajaran Islam.

Lafran Pane mula-mula hanya membahas ide itu bersama teman-temannya, tapi setelah terasa mendapat banyak dukungan, ia melakukan pertemuan dengan mahasiswa yang ada di Yogyakarta pada 1946.

Akan tetapi, terdapat banyak silang pendapat (tidak menemukan titik terang) pada pertemuan pertama.

Tidak sampai disitu, Lafran Pane melanjutkan perjuangannya dengan melakukan pertemuan yang ia pimpin di ruang kuliah Sekolah Tinggi Islam secara mendadak pada 5 Februari 1947. Tanggal itulah yang tercatat sebagai hari lahirnya HMI.

HMI memiliki tujuan:

“Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”. (Sumber: Anggaran Dasar HMI).

Baca: Fase-Fase Perjuangan HMI

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

Kaum intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) menyadari perlu adanya sikap terhadap kondisi Indonesia pada 1950-1959, sehingga terasa perlu mengorganisir kekuatan mahasiswa.

Diskusi serta musyawarahpun terjadi pada mahasiswa NU saat itu dengan terus meminta arahan dari Kyai, tapi dalam perjalanan musyawarahnya sempat terjadi perbedaan pendapat terkait nama organisasi yang akan dipilih.

Terdapat beberapa nama organisasi yang muncul sebagai usulan (14-16 April 1960), tapi pada 17 April yang disepakati adalah nama PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Pada musyawarah itu pula Mahbub Junaidi terpilih sebagai ketua umum yang pertama.

Tujuan PMII:

“Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”. (sumber: Anggaran Dasar PMII).

Baca: Pembentukan PMII

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) merupakan organisasi yang secara pemikiran sangat dekat dengan ide-ide Presiden Indonesia yang pertama, Bung Karno.

GMNI berdiri pada 23 Maret 1954 yang merupakan penggabungan beberapa organisasi mahasiswa yang telah ada sebelumnya.

Organisasi yang sudah ada sebelumnya yaitu Gerakan Mahasiswa Marhaen, Gerakan Mahasiswa Merdeka, Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia.

Ketiga organisasi tersebut melalui pimpinannya melakukan pertemuan sebagai upaya untuk menemukan kesepakatan penyatuan organisasi nasionalis-sukarnois tersebut, sehingga kemudian bersepakat bersatu menjadi GMNI.

Presiden Soekarno memberi restu atas terlaksananya Kongres yang pertama pada 23 Maret 1954, dan tanggal itu tercatat sebagai hari lahirnya GMNI.

Tujuan dari GMNI:

“GMNI adalah organisasi kader dan organisasi perjuangan yang bertujuan untuk mendidik kader bangsa dalam mewujudkan Sosialisme Indonesia berdasarkan Pancasila 1 Juni 1945 dan UUD 1945”.

(Sumber: Anggaran Dasar GMNI)

Baca: Mahaenisme Bagi GMNI

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) berdiri pada 9 Februari 1950, tapi jauh sebelum itu sudah ada Christelijke Studenten Vereeniging op Java (CSV) tahun 1932, itulah sebagai cikal bakal GMKI.

Pada tahun 1945 sempat juga terbentuk Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKI) sebagai organisasi mahasiswa kristen, tapi semangat bersatu sudah ada pada PMKI dan CSV, sehingga dalam perjalanan keduanya bersepakat melebur menjadi GMKI.

Selain menghasilkan kesepakatan untuk bersatu, pertemuan antara PMKI dan CSV juga memberikan kepercayaan kepada Dr. J. Leimena untuk menjadi Ketua Umum GMKI yang pertama.

Pertemuan yang memilih Leimena tersebut menjadi momen awal perjuangan mahasiswa Kristen yang tergabung di GMKI, dan perjuanganpun berlangsung hingga saat ini.

Visi dan Misi GMKI:

Visi:

“Terwujudnya kedamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih”.

Misi:

  1. Mengajak mahasiswa dan warga perguruan tinggi lainnya kepada pengenalan akan Yesus Kristus selaku Tuhan dan Penebus dan memperdalam iman dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.
  2. Membina kesadaran selaku warga gereja yang esa di tengah-tengah mahasiswa dan perguruan tinggi dalam kesaksian memperbaharui masyarakat, manusia dan gereja.
  3. Mempersiapkan pemimpin dan penggerak yang ahli dan bertanggung jawab dengan menjalankan panggilan di tengah-tengah masyarakat, negara, gereja, perguruan tinggi dan mahasiswa, dan menjadi sarana bagi terwujudnya kesejahteraan, perdamaian, keadilan, kebenaran dan cinta kasih di tengah-tengah manusia dan alam semesta.

(Sumber: Anggaran Dasar GMKI)

Baca: Mengapa Harus GMKI

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) berdiri pada 25 Mei 1947 yang merupakan penggabungan dari dua organisasi mahasiswa katolik sebelumnya.

Mahasiswa katolik sebelumnya terorganisir di Katholieke Studenten Vereniging (KSV) dan Perserikatan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI-Yogyakarta).

Semangat menyatu antar KSV dan PMKRI sudah terjadi dalam proses-proses pertemuan, yang puncaknya terjadi pada tahun 1949. Terdapat suatu ungkapan yang tercatat dalam sejarah yaitu, “Kita bukan hanya mahasiswa Katolik, tetapi juga mahasiswa Katolik Indonesia”.

Ungkapan tentang kesamaan itulah yang akhirnya menyatukan KSV dan PMKRI menjadi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia.

PMKRI memiliki visi dan Misi:

Visi:

“Terwujudnya keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati”.

Misi:

“Berjuang dengan terlibat dan berpihak pada kaum lemah, tertindas melalui kaderisasi intelektual populis yang dijiwai nilai-nilai keKatolikan untuk mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati”.

(Sumber: Anggaran Dasar PMKRI)

Baca: Tokoh-Tokoh Awal PMKRI

Melihat sekilas tentang sejarah berdirinya organisasi ekstra kampus dan tujuan perjuangannya, tentu tidak mengherankan apabila aktivis mahasiswa dapat memberikan kontribusi dalam memajukan Indonesia.

Lalu? Apa organisasi yang anda pilih sebagai wadah berproses? Kontribusi apa yang ingin anda berikan untuk Indonesia?

Hidup Mahasiswa!

One thought on “Organisasi Ekstra Kampus, Kenali Tujuannya Sebelum Bergabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *